Mengepak Sayap
Mei 12th, 2009Perlahan
Dan aku bisa

Aku masih di sini
Belum menepi
Maka, Raihlah aku
Kepelabuhan hatimu
Duhai para perempuan yang ada di pantai

Malam tadi seorang gadis meneleponku, memintaku membalas SMS-SMSnya. Yang jadi permasalahan adalah ketika SMS itu selalu menghampiriku bertubi-tubi. Dan memuat hal yang tidak penting rasanya. Sementara, yang kukerjakan seharian ini teramat padat. Dari mulai ngurusin pameran, ngurusin bantuan yang kan segera di kirim ke Situ Gintung dan kegiatan lainnya yang bagiku lebih penting dari pada membalas SMS iseng.
Aneh rasanya, kok bisa-bisanya gadis ini ingin menjadi prioritas dalam hidupku. Padahal aku sama sekali belum mengenalnya. Yang ada dia adalah saudara seorang gadis yang kuanggap adik, dan gadis ini menjodohkanku dengannya. Tapi bukan berarti dengan serta merta aku menerimanya. Apalagi setelah kutahu karakternya seperti ini.
Dia mengancam takkan mau menghubungiku lagi dan akan menghapus nomor nomor ponselku dari memory ponselnya. Aku hanya tersenyum dan bergumam dalam hati, “terserah”.
Bukan rahasia lagi kalau aku itu divonis lelaki sombong oleh banyak gadis. Dan ini hanya karena aku tidak bisa memanjakan mereka. Serba salah memang, ketika aku bersedia saja mengantar salah satu mereka, tak lama gosip pun menyebar, “kini sang jaka sama si A, padahal kemarin sama si B, lihat saja lusa, sama siapa Sang Jaka.” Itulah cibiran yang dihembuskan pojok rumpi, tentang Sang Jaka yang play boy.
Aku telah siap, jika gadis yang mengancamku ini, berubah sikap. Dari memujaku menjadi mencaciku. Karena toh aku tetap aku. Lelaki yang terjebak dalam anugerah-Nya.

Tadi aku bertemu dengannya, tapi syukurlah dia telah berubah, semoga.
Ketika aku mengambil keputusan untuk mengakhiri rencana kami, dia menangis tak henti-henti. Tapi aku telah lelah, dia telah menyai-nyiakan kesempatan yang kuberikan. Dan kini aku tak bisa menganulirnya lagi.
Sekitar 20 menit kemudian tantenya nelepon aku, memintaku untuk lebih bersabar dalam menjalani hubungan dengannya. Setelah tantenya, kini giliran neneknya. Di mata keluarganya memang akulah lelaki satu-satunya yang mereka terima. Mereka punya harapan kalau gadis cantik yang mereka sayangi ini akan berubah, lebih baik.
Sulit memang tuk menolak permohonan keluarganya. Tapi, aku adalah laki-laki. Dan aku tidak mungkin berhubungan dengan perempuan yang tidak bisa dipercaya. Ingin menikah denganku, tapi tetap saja bermain-main dengan yang lain.
Teringat saat-saat gadis ini mendekatiku, merayuku agar aku mau memilihnya. Dia tahu kalau selain dia ada beberapa gadis lain yang berupaya untuk mendapatkan cintaku. Dia pun tahu, aku adalah lelaki yang tak mudah jatuh hati. Dia datang padaku dengan menunjukkan kerapuhannya. Dia menunjukkan kalau dirinya sakit, ada keluhan di syaraf kepalanya, cluster heading kalau gak salah penyakitnya. Dia juga bilang ayahnya bangkrut jadi kondisi ekonomi keluarganya dalam kesusahan.
Akhirnya aku memilihnya, karena dari sekian banyak gadis yang mendekatiku, dia beda. Dia datang padaku dengan kelemahannya, tetapi yang lain datang dengan menunjukkan kelebihan masing-masing. Tapi apa yang terjadi, dia telah membuatku menyesal memilihnya.
Setelah aku nayatakan bahwa pernikahan kami takkan terjadi, dia memohon maaf padaku. Dia akui kesalahannya dan berjanji takkan mengulanginya lagi. Tapi jelas ini tak mungkin, ini yang keempat kalinya dia kepergok. Maka, sejak saat itu aku tak kan terayu lagi olehnya. Hingga akhirnya dia mencoba merusak citraku, tapi siapa yang kan percaya padanya.
Kini, setelah tahu aku tak lagi miliknya, gadis-gadis lain mendekatiku. Aku hanya tersenyum saja. Biarlah mereka tunjukkan seberapa besar kesungguhannya. Karena jika memang aku ini lelaki pilihan, maka kan kuberikan diriku pada perempuan yang terpilih. Aku ingin dia bangga karena bersanding dipelaminan denganku, lelaki yang sebenarnya tidak sangat sempurna.

Kemarin malam, aku salah ketik. Dan dara Jakarta karyawati bank swasta itu terusik. Dia tersipu, memintaku tuk mengenalnya lebih jauh.
Tadi pagi, guru TK itu meneleponku. Bertanya apakah aku bisa bersua dengannya. Ah kau dik, kenapa begitu agresif.
Tadi siang, mantan kekasihku yang di Cikarang meneleponku. Menanyakan kabarku, merindukanku kembali datang. Ah bagaimana mungkin.
Lalu aku teringat seseorang yang tak lagi kuhubungi. Guru SMA yang konon kabarnya menanti untuk dihampiri. Mungkin dia bersedih hati.
Ah aku, masih saja tetap di sini. Menanti kecenderungan hati.
